Kamis, 20 Februari 2025

Harmoni dalam Kesederhanaan: Kehidupan Sosial Masyarakat Kampung Cicakal Muhara Baduy

Harmoni dalam Kesederhanaan: Kehidupan Sosial Masyarakat Kampung Cicakal Muhara Baduy


Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman masyarakatnya, yang tercermin melalui beragam suku, agama, ras, bahasa, dan budaya. Keberagaman ini menjadi salah satu ciri khas yang memperkuat identitas bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, Indonesia bukan hanya sebuah negara dengan populasi yang beragam,  tetapi juga sebuah perpaduan harmonis antara berbagai elemen budaya yang unik. Keberagaman suku di Indonesia mencakup lebih dari 300 suku bangsa yang tersebar di berbagai pulau dan daerah. Setiap suku memiliki warisan budaya yang kaya, termasuk dalam aspek sosial dan adat istiadat mereka. Misalnya, suku Jawa dikenal dengan kebudayaan tradisional yang kaya akan nilai-nilai kesopanan, sedangkan suku Batak memiliki tradisi musik dan seni yang khas.

    Selain suku, Indonesia juga merupakan tempat dimana berbagai agama dan kepercayaan hidup berdampingan secara damai. Mayoritas penduduknya menganut Islam, Kristen, Hindu, dan Budha, serta keyakinan tradisional yang masih dijaga oleh beberapa suku. Keberagaman agama ini memperkaya landscape spiritual masyarakat Indonesia dan memperkuat toleransi antarumat beragama. Tidak hanya itu, keberagaman bahasa juga menjadi ciri khas Indonesia. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, menjadi alat komunikasi resmi, sementara bahasa daerah dipertahankan sebagai identitas budaya lokal. Setiap bahasa daerah memiliki keunikan sendiri dalam kosakata, tata bahasa, dan ciri khas ekspresi yang memperkaya kekayaan bahasa Indonesia secara keseluruhan. Salah satu bukti keberagaman di Indonesia adalah adanya Suku Baduy.

    Suku Baduy merupakan suku adat Indonesia yang tinggal di daerah Pegunungan Kendeng di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Budaya, adat istiadat, dan gaya hidup suku ini sangat tradisional, sederhana, dan tidak terpengaruhi oleh modernisasi. Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Masing-masing kelompok memiliki aturan dan gaya hidup yang berbeda, namun baik dari kedua bagian tersebut masih sama-sama berpegang teguh pada prinsip adat yang kuat. 

    Keunikan Suku Baduy yang diwariskan secara turun temurun dan cara hidup mereka yang selaras dengan alam adalah ciri khas Suku Baduy. Mereka menolak penggunaan teknologi canggih yang berlebihan dan masih tetap menggunakan sistem pertanian tradisional untuk menjaga kelestariannya. Dengan demikian, Suku Baduy ini telah menarik perhatian akademisi, pemerintah dan wisatawan karena pola hidupnya yang sederhana dan aturan adat- yang ketat, yang masih dipatuhi hingga saat ini. Namun, di tengah arus globalisasi dan perkembangan zaman yang berlangsung begitu pesat, Suku Baduy menghadapi berbagai problematika.

    Pertama, adanya tekanan dari kegiatan ekonomi dan pembangunan di luar wilayah mereka. Pembangunan infrastruktur seperti jalan dan fasilitas umum yang seringkali merusak lingkungan dan kehidupan tradisional yang ada di Baduy yang disinyalir perubahan ini mengancam kelestarian alam dan budaya yang ada di Baduy. Kedua, meningkatnya interaksi dengan dunia luar sedikit demi sedikit memiliki konsekuensi yaitu membawa dampak sosial dan budaya yang signifikan. Kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy, terutama Baduy Luar mulai dipengaruhi oleh arus/algoritma wisatawan dan masuknya produk-produk modern. Fenomena seperti ini dapat mengubah prinsip tradisional, adat istiadat, dan struktur sosial masyarakat. Dan yang terakhir, masalah/isu kesehatan dan pendidikan juga menjadi salah dua fokus/perhatian. 

    Meskipun komunitas Baduy memiliki sistem pendidikan informal yang mengajarkan kearifan lokal, akses ke pendidikan masih sangat-sangat terbatas. Hal ini berdampak pada kemampuan mereka untuk mempertahankan identitas budaya mereka tanpa mengalami perubahan dari luar. Selain itu, tidak mudah bagi masyarakat Baduy untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak, terutama bagi mereka yang tinggal di Baduy Dalam yang sifatnya sangat tertutup. 

    Berdasarkan data yang diperoleh oleh Tim Social Forestry Indonesia, Banten merupakan wilayah yang berhutan paling luas di Jawa barat dengan 354.970 ha. Jenis vegetasinya antara lain, Rasamala, Saninten dan Nyamplung. Di wilayah hutan Banten itulah terdapat Desa Kanekes yang luasnya 5.101,85 ha. Dengan jumlah masyarakatnya sekitar 5.000 orang yang tersebar di 10 kampung (dalam Wilodati, 1985:7). Desa Kanekes adalah suatu daerah yang hampir tanpa daratan, karena hampir keseluruhan wilayah Desa Kanekes adalah dataran tinggi yang berbukit-bukit.


Peta Wisata Suku Baduy

Suku Baduy secara geografis terletak pada koordinat  6°27’27”– 6°30’0” LS dan 108°3’9” 106°4’55” BT. Wilayah Baduy bermukim di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Provinsi Banten, memiliki jarak sekitar 40 KM dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang termasuk bagian dari Pegunungan Kendeng memiliki ketinggian antara 300 hingga 600 meter di atas permukaan laut (DPL) tersebut memiliki topografi berbukit dan bergelombang dengan rata-rata kemiringan tanah mencapai 45%, yang merupakan tanah endapan di bagian tengah, tanah campuran di bagian selatan, dan tanah vulkanik di bagian utara. Wilayah Baduy memiliki suhu rata-rata 21°C.

Lokasi dan letak demografi Baduy yang berlokasi di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak , Banten terdiri dari kampung Gajebo, Cikeusik, Cibeo, dan Cikertawana. Dan juga terbagi menjadi Baduy Luar dan Baduy Dalam. Daerah dengan luas 1348 Ha, terdiri atas 117 Kartu Keluarga yang menempati 99 rumah yang dinamakan Culah Nyanda atau rumah panggung, sedangkan rumah kokolot atau duku dinamakan Dangka yang menghadap ke selatan (Astari, 2009: 3). Suku Baduy mendiami kurang lebih 20 kampung di Desa Kanekes, termasuk Baduy Dangka yang tinggal di luar desa Kanekes. 

    Dalam berkehidupan sosial, masyarakat Suku Baduy memiliki ciri khas yang melekat di dalamnya. Ciri khas tersebut, diantaranya adalah:

SITUASI KEBAHASAAN

Suku Baduy memiliki karakteristik yang berbeda dalam proses menjalani kehidupan sehari-harinya, salah satu yang menjadi ciri khas Suku Baduy adalah dalam penggunaan bahasa. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Baduy adalah bahasa Sunda dengan dialek khas Baduy. Dialek ini merupakan bentuk asli dari bahasa Sunda yang dituturkan oleh masyarakat Baduy. Dalam hal berkomunikasi bahasa, Suku Baduy cenderung menggunakan nada tinggi. Dalam konteks bahasa Sunda pada umumnya, nada tinggi yang biasa digunakan dalam berbicara terdengar sangat kasar. Pada fenomena ini, biasanya orang Sunda akan berbicara nada tinggi saat keadaan sedang marah. Oleh karena itu, orang luar Baduy seringkali menganggap bahasa Sunda Dialek Baduy sebagai bahasa kasar.

Salah satu kampung yang menjadi bagian dari Suku Baduy adalah Kampung Cicakal Muhara. Dalam berkehidupan, masyarakat di Kampung Cicakal Muhara memiliki Dialek Bahasa Sunda yang berbeda. Beberapa contoh bahasa Sunda yang digunakan oleh masyarakat Kampung Cicakal Muhara, yaitu sebagai berikut:

  1. “Mun masak lauk, kami mah sok maké kékéncéng”

  2. “Dia mah sok télok didéngé, jiga teu boga jeding”

  3. “Mun didieu nyebut ka indung mah nya ambu”


KEPENDUDUKAN

Baduy merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia, dengan prinsip hidup yang masih memegang teguh prinsip kearifan lokal dan menolak kehidupan yang modernisasi serta menjaga gaya hidup tradisional. Populasi Suku Baduy mencapai 13.200 jiwa, yang terbagi jadi dua wilayah, yaitu Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam. Penduduk Baduy Dalam pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 1.500 jiwa, yang terbagi menjadi 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Kondisi kehidupan Baduy dalam sangat konservatif terhadap adat dan tradisi yang mereka miliki. Suku Baduy dalam tidak menggunakan teknologi modern, seperti listrik, handphone, dan alat elektronik lainnya. Ciri khas dari Baduy Dalam adalah mereka hanya diperbolehkan mengenakan pakaian berwarna putih alami. 


KEARIFAN LOKAL SUKU BADUY

Beberapa bentuk kearifan lokal yang terdapat di Suku Baduy ialah sebagai berikut:

Dongeng

Dalam KBBI, dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Namun dongeng juga memiliki pesan yang sangat penting untuk disampaikan berupa ajaran moral dan pesan lainnya. Menurut Dudung (2015), dongeng adalah bentuk sastra lama yang bercerita tentang kejadian luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) dan tidak benar-benar terjadi. Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi.

Pada Suku Baduy sendiri, terdapat beberapa dongeng  yang digunakan sebagai pengajaran moral dan juga hidup di masyarakat sehingga menjadi tuntunan kehidupan dan ajaran moral bagi anak-anak hingga dewasa. Dongeng-dongeng tersebut turun temurun sejak dahulu.pada saat inni dongeng-dongeng yang ada di Baduy kurang diketahui oleh anak-anak. Banyak alasan hal itu dapat terjadi, salah satunya karena faktor orang tua yang tidak menyampaikan dongeng kepada anaknya. Beberapa dongeng tersebut, yakni (1) Dongeng Iwak Gentur yang digambarkan sebagai makhluk menyeramkan yang sangat besar dan menakutkan. Dalam cerita orang Baduy sendiri, disebutkan bahwa Iwak Gentur adalah makhluk yang suka merusak lahan pertanian milik warga Baduy. Bahkan selama hidup hingga kematiannya, Iwak Gentur tetap menjadi hama, (2) Dongeng Dewi Sri dan Kawung yang digambarkan sebagai segerombolan penjajah pada zaman dahulu yang meninggal dan jasadnya tergeletak dimana saja, katanya darah dari mayat penjajah tersebut menciprat ke dewi Sri dan hal ini pun menyebabkan bercak merah yang ada pada pare, darah tersebut nantinya akan mengeluarkan belatung yang akan menjadi kungkang. Sedangkan, untuk roh dari para jasad tersebut biasa disebut hama beureum bergentayangan dan memberikan hama juga nantinya, tetapi kemudian akan menjelma pada tikus dan kita tidak boleh memarahi tikus tersebut “bisi nya- rumahnya rumah” apabila arwah itu mengarah ke otak manusia maka nantinya dapat mempengaruhi otak manusia tersebut. Untuk Dewi Kawung sendiri sebenarnya ceritanya hampir sama saja, tetapi untuk Dewi Kawung diceritakan bahwa mereka pundungan. Kawung biasanya cenderung akan berair, tetapi bila kita mengabaikannya karena tidak butuh maka nantinya kawung tersebut tidak akan mengeluarkan air lagi, dan (3) Dongeng Lulun Samak yang merupakan hantu yang suka menenggelamkan manusia yang bermain-main di sungai. Lulun samak mengincar anak-anak kecil dan orang yang bermain di sungai hingga larut malam. Lulun samak dipercaya sebagai samak (tikar) yang tiba-tiba menggulung dan menenggelamkan ke dasar sungai. 

Tatarucingan

Menurut Sunda Digi, kata “tatarucingan” diartikan sebagai kaulinan yang mengeluarkan rupa-rupa tarucing. Tatarucingan atau dalam bahasa Indonesia disebut teka-teki merupakan salah satu permainan tradisional khas daerah Jawa Barat yaitu suku Sunda yang berisi tentang pertanyaan dan jawaban yang bertujuan untuk menghibur. Di tatar Sunda, tatarucingan termasuk ke dalam sastra lisan berupa tebak-tebakan yang biasa dilakukan masyarakat saat sedang berkumpul atau dalam waktu senggang. Beberapa tatarucingan yang digunakan dan biasa dipakai leh anak-anak, remaja maupun dewasa. Biasanya, tatarucingan muncul pada saat bermain angklung, yang dilakukan pada saat menanam padi (ngahuma). Berikut beberapa contoh tatarucingan yang ada di Suku Baduy:

a) Susukan jalan Cileuncang

Dipengkong dikakolongkeun

Isukan arek leumpang

Pacua ngaroromongkeun


b) Peuteuy lebet jengkol Jawa

Dijalan ka huma jauh

Mempeng deket kempol bawa

Jaga mah kaburu jauh

    Selain tatarucingan, Suku Baduy juga terdapat sisindiran yang biasa disebut “Babadéan” oleh orang disana. Biasanya babadéan ini berbentuk wawangsalan. Wawangsalan merupakan salah satu puisi buhun/ jaman dulu. Berikut contoh wawangsalan atau babadean yang berada di suku Baduy:

  1. Jurig lain, sétan lain, kabeukina indung suku? (jawabannya: Sigay)

  2. Nu ngakep na cicing anu diakep na lempang? (jawabannya: pancuran)

  3. Dicabak ayaan, pas dilieuk euwuh? (jawabannya: ceuli/jeding)


    Bisa disimpulkan, ditengah derasnya perkembangan teknologi di era globalisasi, Suku Baduy tetap mempertahankan budaya dan adat istiadat mereka agar tetap terjaga dengan lestari. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Baduy, tidak menjadikan mereka terpengaruh akan budaya ataupun kebiasaan orang-orang luar. Hal ini, patut kita pertahankan dan lestarikan terutama pada keberadaan suku-suku di Indonesia yang masih mempertahankan kearifan lokal mereka.



REFERENSI

Alfari, S. (2024, April Senin). Pengertian Dongeng, Jenis, Ciri-ciri, Fungsi, Unsur & Contoh. Retrieved from ruang guru_: https://www.ruangguru.com/blog/dongeng.


Ayatrohaedi. (1979). Dialektologi sebuah pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.



Danandjaya, J. (1984). Folklore Indonesia. Jakarta Utara: PT. Pustaka Graftipers.


Ibnus, N. (2018). Unsur Budaya dalam Leksikon Tataruncingan. DESKRIPSI BAHASA, 5.


Koentjaraningrat. (1971). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.


Mustomi, O. (2017). Perubahan Tatanan Budaya Hukum pada Masyarakat Adat Suku Baduy Provinsi Banten. Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar