Campur Kode dalam Tuturan Player Random
Berbahasa Sunda pada Game Online PlayerUnknown'S Battlegrounds (PUBG) Mobile
Bahasa adalah sebuah sistem komunikasi yang merupakan salah satu aspek
penting dalam kehidupan masyarakat dalam proses berinteraksi atau berkomunikasi
dengan sesamanya. Menurut Keraf (dalam Suandi, 2014:4) bahasa dapat
didefinisikan sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa lambang
bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia serta memiliki sifat yang
dinamis. Dalam arti bahasa tersebut akan terus mengalami sebuah perubahan selama
bahasa tersebut masih terus dipergunakan oleh penuturnya. Adapun pandangan lain
mengenai bahasa yang diutarakan oleh Bloomfield (dalam Sumarsono, 2017: 18) yang berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi yang memiliki
sifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh anggota-anggota masyarakat
untuk saling berhubungan dan berinteraksi antar sesama. Pendapat lain yang
dikemukakan oleh (Sobarna & Afsari, 2020) arbitrer dapat diartikan dengan tidak
adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (wujud bunyi) dengan pengertian
yang dimaksud oleh lambang tersebut.
Menurut Fishman ( dalam Pateda, 1988: 32) menyatakan ada beberapa faktor
yang memengaruhi tingkat penggunaan bahasa seperti faktor umur, jenis kelamin,
hubungan kekeluargaan, jabatan, status ekonomi, pendidikan, peristiwa sosial,
tempat, waktu, topik, dan tingkat keakraban. Misalnya seorang pemain acak dalam
satu tim pada game online PUBG Mobile yang memakai tuturan bahasa Sunda,
menyelipkan serpihan kata bahasa Inggris yang dianggap lebih tepat padanannya
untuk meyakinkan lawan bicara agar mengerti ujarannya. Dari serpihan bahasa Inggris yang digunakan oleh pemain acak tersebut, muncul permasalahan yang
disebut campur kode dalam ruang lingkup sosiolinguistik.
Sosiolinguistik merupakan cabang ilmu dari linguistik istilah sosiolinguistik
berasal dari gabungan 2 kata, yakni “socio” yang memiliki arti ‘masyarakat’ dan
“linguistic” yang memiliki arti ‘ilmu bahasa’. Berdasarkan hal tersebut, dapat
disimpulkan bahwa sosiolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari tentang
bahasa dalam kaitannya dengan masyarakat.
Adanya perkembangan teknologi informasi di era globalisasi tersebut,
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi
masyarakat yang bilingual dan multilingual karena masyarakat Indonesia mampu
untuk menggunakan dua atau lebih bahasa di dalam proses komunikasi baik secara
nyata maupun maya. Istilah bilingualisme dikenal juga dengan istilah
kedwibahasaan. Weinrich (dalam Suandi, 2014: 13) menyatakan bahwa
bilingualisme atau kedwibahasaan merupakan ‘the pactice of alternately using two
languages’ yaitu suatu keadaan dimana seseorang terbiasa menggunakan dua bahasa
atau lebih dengan cara bergantian di dalam proses komunikasi. Adanya fenomena
tersebut, tentu saja banyak terjadi campur kode di dalam suatu peristiwa tutur.
Campur kode adalah wujud dari penggunaan bahasa lain yang ditandai dengan
adanya percampuran bahasa, baik percampuran bahasa Indonesia yang disingkat
menjadi BI dengan bahasa Sunda yang disingkat BS atau percampuran bahasa Asing
yang disingkat menjadi BA dengan BS oleh penutur di dalam tuturannya. Menurut
Kridalaksana (dalam Suandi, 2014:139) mendefinisikan campur kode sebagai
fenomena penggunaan unsur-unsur dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain dengan
tujuan untuk memperluas gaya bahasa ataupun ragam bahasa; termasuk di dalamnya
mengenai penggunaan kata, klausa, idiom, dan lain sebagainya.
Dewasa ini, adanya peristiwa campur kode tidak hanya terjadi di dalam
konteks sosial secara konvensional, tetapi sekarang ini campur kode juga dapat
terjadi di dalam tuturan para pemain game online. Menurut (Bodenheimer,
1999) mengatakan bahwa game online adalah program permainan yang terhubung
dengan jaringan internet yang dapat diakses dan dimainkan kapan saja dan dimana saja. Permainan ini juga bisa dimainkan secara kelompok oleh penggunanya di
seluruh dunia menggunakan perangkat internet. Salah satu game online yang sangat
populer dan menjadi salah satu akibat adanya perubahan teknologi informasi adalah
PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) Mobile.
PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) Mobile merupakan permainan
multiplayer kompetitif yang mengusung genre “Battle-Royale” sebagai fokus
utamanya. Permainan ini hadir dalam dua jenis tampilan, yaitu First-Person Shooter
dan Third-Person Shooter. Rizkia Fitria (2020) Hadirnya permainan game online ini,
membuka peluang menjalin komunikasi dengan orang-orang dari berbagai daerah.
PUBG Mobile menjadi salah satu jenis game online dengan urutan kedua
paling banyak dimainkan di Indonesia. Pada permainan PUBG Mobile ini, terdapat
323 juta pengguna aktif pada setiap bulan. Pada fenomena ini, banyak kebahasaan
yang dapat diamati seperti campur kode (Good Stats, 2024). Hal ini terjadi jika
penutur menyisipkan unsur-unsur bahasa lain saat sedang menggunakan bahasa
tertentu (Sumarsono, 2017: 202).
Permasalahan campur kode ini kerap terjadi seperti suatu hal yang sudah
lumrah, bahkan memunculkan variasi bahasa di kalangan para gamers. Salah satunya
muncul pada pengguna permainan game online PUBG Mobile (Anugrah Nur Putri
Hafid, 2020). Dalam penyajiannya, di dalam tuturan berbahasa Sunda para player
random game online PUBG Mobile terdapat sisipan unsur-unsur dari bahasa lain,
yakni penyisipan unsur-unsur dari BI dan BA yang disisipkan ke dalam unsur BS
oleh para player random (acak) yang menjadikan PUBG Mobile ini menjadi sangat
menarik untuk diteliti karena para pemain acak yang ada di dalam game online PUBG Mobile masih menyisipkan unsur-unsur bahasa Indonesia dan bahasa asing
disaat sedang bertutur dengan menggunakan bahasa Sunda yang merupakan bahasa
ibu mereka.
Salah satu contoh campur kode yang terjadi di dalam tuturan player
random pada game online PUBG Mobile:
“Kalem euy, aing keur mencari senjata UMP heula can meunang”
Pada contoh diatas, menunjukan adanya campur kode. Campur kode yang terjadi, yakni campur kode unsur bahasa Indonesia yang disisipkan ke dalam unsur bahasa Sunda.
Menurut Suandi (2014: 140) bentuk campur kode berdasarkan serapannya, terbagi menjadi tiga jenis, yakni (1) campur kode ke dalam (inner code-mixing), (2) campur kode ke luar (outer code-mixing), dan (3) campur kode campuran (hybrid code-mixing).
Pada fenomena terjadinya campur kode di dalam para player random game online PUBG Mobile ini, merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Dalam situasi terjadinya campur kode, biasanya terjadi dalam keadaan informal. Beberapa ciri-ciri campur kode, diantaranya:
- Tidak terikat oleh situasi dan konteks pembicaran, namun campur kode bergantung pada pembicaraan (fungsi bahasa), yakni sebagai sebuah alat komunikasi;
- Dapat terjadi karena adanya kesantaian pembicara dan kebiasaan;
- Berada pada ruang lingkup di bawah klausa pada tataran yang paling tinggi, serta kata pada tataran yang paling rendah.
Selain itu, menurut Suandi (2014: 143) peristiwa campur kode dapat terjadi karena beberapa faktor, diantaranya:
- Penggunaan istilah yang lebih populer;
- Pembicara dan pribadi pembicara;
- Mitra pembicara;
- Tempat tinggal dan waktu pembicaraan berlangsung;
- Modus pembicaraan;
- Topik;
- Fungsi dan tujuan;
- Ragam dan tingkat tutur bahasa;
- Hadirnya penutur ketiga;
- Pokok pembicaraan;
- Untuk membangkitkan rasa humor;
- Untuk sekadar bergengsi.
Pada fenomena campur kode yang terjadi di dalam tuturan player random berbahasa Sunda pada game online PUBG Mobile ini, diakibatkan oleh beberapa faktor yang sudah disebutkan di atas. Beberapa faktor dan contohnya, yakni:
Keterbatasan Penggunaan Kode
- “Rék maén TDM moal, lur?”
- "Kadé nya, musuhna TPP eta di deket bukit Pochinki”
Pada data tersebut terdapat sisipan kata TDM atau Team Deatchmatch, serta TPP atau Third Person Perspective. Kedua data tersebut, termasuk ke dalam faktor penyebab campur kode karena adanya keterbatasan
penggunaan kode. Di dalam bahasa Sunda tidak terdapat padanan kata yang pasti untuk kata
TDM dan kata TPP. Akan tetapi, untuk penyebutan kata TDM dan TPP di dalam bahasa Sunda seringkali mengikuti
pada penyebutan kata TDM dan TPP di dalam bahasa Indonesia.
Penggunaan Istilah yang Lebih Populer
- “Eusian bénsin heula méh full mobilna nya”
- “Tadi nu boga pesawat gacor pisan skinna”
Pada data (1) terdapat sisipan kata full yang termasuk ke dalam faktor
penyebab campur kode karena penggunaan istilah yang lebih populer. Di dalam bahasa Sunda sendiri sebenarnya tidak terdapat kata full yang ada hanya kata pinuh. Meski penutur
mengetahui padanan kata full di dalam bahasa Sunda, tetapi mereka khususnya anak-anak muda akan tetap menggunakan kata full karena terdengar lebih kekinian. Sedangkan pada data (2), terdapat sisipan kata gacor yang termasuk ke dalam faktor
penyebab campur kode karena penggunaan istilah yang lebih populer. Di dalam bahasa Sunda sendiri sebenarnya tidak terdapat kata gacor yang ada hanya kata alus. Meski
penutur mengetahui padanan kata gacor di dalam bahasa Sunda, tetapi mereka khususnya anak-anak muda akan tetap menggunakan kata gacor karena terdengar
lebih kekinian.
Fungsi dan Tujuan
- “ Lémpar waé granat asap méh teu katingal ku musuh”
- “Ké rotasi maké mobilna dengan cepat nya mawana, méh teu kaudag ku musuh”
Pada data (1) terdapat sisipan kata asap yang menjadi salah satu
contoh dari faktor penyebab terjadinya campur kode karena fungsi dan tujuan.
Maksud pemain PUBG Mobile menggunakan kata asap pada frasa granat asap adalah untuk
memberikan informasi kepada pemain agar melindungi timnya dari serangan musuh
dengan menggunakan granat asap. Penggunaan kata asap pada frasa granat asap, seharusnya
digantikan dengan penggunaan kata haseup yang merupakan padanan dari
kata tersebut di dalam bahasa Sunda. Kemudian, untuk data (2) terdapat sisipan frasa dengan cepat yang menjadi salah satu
contoh dari faktor penyebab terjadinya campur kode karena fungsi dan tujuan.
Maksud pemain PUBG Mobile menggunakan frasa dengan cepat adalah untuk
memberikan perintah kepada rekan timnya supaya membawa kendaraan dengan cepat agar tidak terkejar oleh musuh. Penggunaan frasa dengan cepat, seharusnya
digantikan dengan penggunaan frasa rada gancang yang merupakan padanan dari
frasa tersebut di dalam bahasa Sunda.
Kesimpulan terjadinya fenomena campur kode pada tuturan player random berbahasa Sunda dalam game online PlayerUnknown'S Battlegrounds (PUBG) Mobile, diakibatkan oleh 3 faktor, yakni (1) keterbatasan penggunaan kode, (2) penggunaan istilah yang lebih populer, dan (3) fungsi dan tujuan.
REFERENSI
Ahmad Akram Syam. (2022). Penggunaan Ragam Bahasa Gamer di Indonesia pada Teks
Pemain di Grup Facebook dan Grup WhatsApp: Tinjauan Sosiolinguistik Games di Grup .
UniversitasHasanudin.
Anugrah Nur Putri Hafid. (2020). Mobile LegendV dan PUBG Mobile (Studi Kasus Dampak
Game Online Pada Keluarga Di Kota Makassar). Universitas Hasanudin.
Bodenheimer, B. (1999). Computer Animation and Simulation. Eurographics.
Good Stats. (2024). 95% Pengguna Internet Indonesia Bermain Video Games.
Sobarna, C. , & A. A. S. (2020). Sebuah Pengantar Memahami Bahasa Sunda. Unpad Press.
Suandi. (2014). Sosiolinguistik. Graha Ilmu.
Sumarsono. (2017). Sosiolinguistik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar