Senin, 26 Desember 2022

SESAR LEMBANG: Penyebab Awal Terjadinya Gempa Bumi Berskala Besar di Jawa Barat?

Sesar Lembang merupakan salah satu bidang sesar yang terletak di Provinsi Jawa Barat, yang terletak di bagian utara Kota Bandung. Bidang yang bersifat lemah ini terbentuk akibat adanya aktivitas bersifat tektonik ekstensional, yang dapat menyebabkan sebagian batuan dapat mengalami patahan sebagai sesar normal. Sesar Lembang ini sendiri berarah dari barat-timur, membentang dari arah selatan Tangkuban Parahu, Lembang, sampai ke lereng bagian barat Gunung Manglayang. Sementara itu, Lembang kota yang termasuk ke dalam sesar normal ini termasuk ke dalam wilayah yang sudah menjadi pusat permukiman, perdagangan, dan objek pariwisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun internasional.



Peta Jalur Sesar Lembang

Hasil dari interpretsi citra indraja, menunjukan bahwasanya adanya gawir sesar yang melewati daerah Lembang yang membentang dari arah barat sampai timur. Jalur sesar ini mulai nampak terlihat di daerah Cianjur atau lebih tepatnya di bagian Panjadokan yang posisinya berada di bagian barat Lembang, yang selanjutnya kelurusan struktur ini membujur ke arah timur melalui daerah Maribaya dan berakhir di sekitaran Gunung Palasari. Jika diperhatikan secara detail, nampaknya kelurusan struktur ini berbelok arah ke selatan yang mendekati daerah Ujung Berung. Di daerah Lembang sampai Maribaya, tersingkap adanya jenis batuan breksi dan lava. Kemudian menunjukan adanya sejumlah bidang yang kekar, dengan jenis ekstensional dan gerus. Lalu, bidang kekar ini saling berpasangan yang kemudian membentuk pola yang sistimatik.

Singkapan batuan breksi dan lava ditemukan pula di daerah wisata Maribaya. Di lokasi ini mengalir Sungai Cikapundung yang menyingkapkan batuan segar yang berupa lava dan breksi vulkanik. Lava umumnya memiliki warna abu abu muda, keras dan banyak mengandung kekar gerus serta kekar ekstensional. Keberadaan sejumlah bidang kekar ini diyakini sebagai akibat dari aktivitas pensesaran. Kemudian singkapan batuan breksi vulkanik ini lebih banyak tersingkap pada lereng perbukitan yang berbentuk morfologi terjal. Batuan ini juga memperlihatkan adanya pengkekaran yang intensif. Sama halnya dengan kekar yang ada pada tubuh lava, maka kekar pada batuan ini juga diakibatkan oleh pengaruh pembentukan sesar normal.

Sesar Lembang yang memiliki panjang jalur sesar sepanjang kurang lebih 30 KM ini, menunjukan bahwa adanya laju pergeseran yang mencapai 5,0 mm/tahun. Sementara itu, dari beberapa data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukan adanya beberapa aktivitas seismik dengan kekuatan yang kecil. Kemudian adanya peringatan potensi gempa bumi di jalur Sesar Lembang, dengan magnitudo maksimum 6,8 Skala Richter. 


Referensi:

Hidayat, E. (2021). Analisis Morfotektonik Sesar Lembang, Jawa Barat. Balai Informasi dan                Konservasi Kebumian LIPI. Kebumen.

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). (2017). Penjelasan BMKG Terkait Hasil Kajian Sesar Lembang yang Berpotensi Memicu Gempa Berkekuatan M=6.8. http://www.bmkg.go.id/pressrelease/?p=penjelasan-bmkg-terkait-hasilkajian-sesar-lembang-yang-berpotensimemicu-gempa-berkekuatan-m6-8&lang=ID. Di Akses Pada : 05 Mei 2018


Pengaruh Resiko Penyakit Infeksi Menular Seksual Pada Kaum Remaja

Infeksi Menular Seksual atau lebih dikenal dengan IMS adalah infeksi yang ditularkan dengan cara melalui hubungan seksual, atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit kelamin. Penyebab infeksi tersebut disebabkan karena adanya bakteri seperti sifilis, gonore, virus, jamur (contohnya HIV). Penyakit seperti ini dapat menyerang pria dan wanita. IMS juga dapat menyebabkan infeksi pada alat reproduksi yang dianggap sangat serius, bilamana tidak segera diobati dengan serius dan tepat, dapat menyebabkan rasa sakit yang berkepanjangan, infeksi yang menular, kemandulan, bahkan dapat menyebabkan kematian. 

Risiko paling tinggi terkena Infeksi Menular Seksual ini adalah remaja perempuan, dibandingkan dengan laki-laki. Sebab alat kelamin perempuan sangat rentan, dan juga sering kali berakibat lebih fatal karena gejala awalnya yang tidak dikenali, sedangkan hal tersebut menyebabkan penyakit yang lebih parah. Penyakit Infeksi Menular Seksual yang sering kali terjadi pada masyarakat umum seperti klamidia, bakterial vaginosis, sifilis, gonore, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk laki-laki sendiri, lebih dikenal dengan kencing nanah, yang mempunyai gejala awalnya yaitu keluarnya cairan yang kental berwarna kekuning-kuningan dari alat kelamin, yang mempunyai rasa nyeri di perut bagian bawah. 

Komplikasi yang dapat terjadi di antaranya adalah radang panggul pada perempuan, terjadinya kemandulan baik pada laki-laki ataupun perempuan, infeksi pada bayi yang baru lahir di bagian mata dan dapat menyebabkan kebutaan, adanya kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan, serta dapat memudahkan penularan infeksi HIV. Penyakit raja singa atau sering disebut sifilis, yang disebabkan oleh bakteri Treponema palidum. Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini adalah timbul tampak luka yang bersifat tunggal, tidak nyeri dan menonjol, bintik merah ditubuh yang bisa hilang dengan sendirinya, serta sering limfadenopati.

Adanya komplikasi kerusakan yang terjadi pada otak dan jantung, keguguran atau lahir cacat, pada saat kehamilan dapat ditularkan pada cabang bayi, serta dapat memudahkan penularan infeksi HIV. Penyakit klamidia yang disebabkan bakteri Chlamydia trachomatis. Infeksi ini biasanya bersifat kronis, karena 70%  perempuan pada awalnya tidak merasakan gejala sakit apapun, sehingga tidak memeriksakan diri. Gejala yang timbul yaitu nyeri di rongga panggul, keluar cairan dari vagina/penis yang berwarna putih kekuningan, dan terjadi pendarahan setelah melakukan hubungan seksual. ). Komplikasi yang terjadi biasanya menyertai gonore, penyakit radang panggul, kemandulan akibat perlekatan yang terjadi pada saluran falopian, kehamilan ektopik (diluar kandungan), infeksi mata dan juga radang paru-paru (pneumonia) pada bayi baru lahir serta memudahkan penularan infeksi HIV.


Referensi:

Kemenkes RI. (2011). Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual. Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Djuanda, Adhi, Hamzah, Mochtar, Aisah, Siti (Ed). (2010). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.

Tuntun, M. (2018). Faktor Resiko Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). Jurnal Kesehatan, 9(3), 419. https://doi.org/10.26630/jk.v9i3.1109